Hajat Bumi
Hajat Bumi adalah istilah generik dalam budaya Sunda untuk menyebut berbagai bentuk upacara adat atau kegiatan syukuran masyarakat yang berkaitan dengan tanah, pertanian, dan siklus alam. Secara umum, Hajat Bumi merupakan wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi, penghormatan kepada leluhur pembuka wilayah, serta sarana mempererat silaturahmi dan gotong royong warga.[1][2]
Meskipun namanya sama, bentuk dan makna Hajat Bumi dapat berbeda-beda tergantung konteks wilayah dan tujuannya.
Bentuk dan Tujuan
Berdasarkan praktik di berbagai daerah di Jawa Barat, Hajat Bumi memiliki beberapa bentuk utama:
1. Hajat Bumi sebagai Ritual Pelestarian Situs Budaya
Bentuk ini ditemukan di Pulo Majeti, Kota Banjar. Hajat Bumi dilaksanakan sebagai ritual adat tahunan oleh kasepuhan pada tanggal 7 Muharam. Tujuannya melestarikan situs budaya, mengedukasi publik tentang nilai luhur situs agar tidak hanya identik dengan pesugihan, serta mengembangkan potensi wisata dan ekonomi lokal.[3]
2. Hajat Bumi sebagai Syukuran Desa
Dalam program Kampung Keluarga Berkualitas, Hajat Bumi didefinisikan sebagai kegiatan untuk "menjalin tali silaturahmi dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME" yang difasilitasi oleh pemerintah desa.[2]
3. Hajat Bumi sebagai Warisan Budaya Takbenda
Hajat bumi Cariu di Kabupaten Ciamis telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Tradisi ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan Muharam sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Ciri khasnya adalah penggantungan hasil bumi, doa di makam leluhur pembuka wilayah Eyang Candradirana, pertunjukan ronggeng, dan makan bersama atau botram.[4]
4. Hajat Bumi sebagai Perayaan Hari Jadi Desa
Di Desa Linggamukti, Kabupaten Purwakarta, Hajat Bumi merupakan bagian dari perayaan Milangkala atau hari jadi desa. Tujuannya mengingatkan sejarah perjuangan para pendiri desa, menumbuhkan semangat gotong royong sareundeuk saigel sabobot sapihanean, dan mempererat kebersamaan warga.[1]
Nilai-nilai Luhur
Dari berbagai praktiknya, Hajat Bumi secara umum mengandung nilai-nilai:[5][1] 1. Syukur: Kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia alam dan hasil bumi. 2. Sejarah: Penghormatan kepada leluhur atau tokoh pembuka wilayah. 3. Gotong Royong: Mempererat silaturahmi, solidaritas sosial, dan kebersamaan warga. 4. Kearifan Ekologi: Menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dengan alam.
Lihat pula
Referensi
- ^ a b c Hajat Bumi Milangkala Desa Linggamukti, PPID Purwakarta, 2025
- ^ a b Hajat Bumi, Kampung KB BKKBN, 2025
- ^ Wakil Wali Kota Banjar Hadiri Hajat Bumi Pulo Majeti, Pemkot Banjar, 2020
- ^ Hermawan, Dadang. "Bersyukur Lewat Tradisi Hajat Bumi Cariu di Ciamis", detikJabar, 2024
- ^ Hermawan, Dadang. "Bersyukur Lewat Tradisi Hajat Bumi Cariu di Ciamis", detikJabar, 2024
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.









