Share to:

Konflik Israel–Iran

Eskalasi Konflik Iran-Israel Juni 2025 merupakan peristiwa geopolitik signifikan yang terjadi pada pertengahan Juni 2025, ditandai dengan serangkaian serangan militer besar-besaran antara Iran dan Israel. Konflik ini mencapai puncaknya pada 13-14 Juni 2025 ketika Israel melancarkan Operasi Rising Lion yang menyasar fasilitas nuklir dan militer Iran, diikuti dengan serangan balasan Iran melalui Operasi True Promise 3.[1]

Operasi Singa Bangkit
Bagian dari konflik Iran–Israel 2024 dan krisis Timur Tengah (2023–sekarang)
Ledakan di Tehran
Lingkup operasiSerangan udara
Lokasi Iran
Perencana Israel
Sasaran
Tanggal13 Juni 2025 – sekarang
Dieksekusi oleh
  • Templat:Militer
KorbanPer Iran:[2]
224+ terbunuh
1.277+ luka-luka
Per HRANA:
863+ terbunuh dan luka-luka (per 14 Juni jam 22:00 GMT)[2]
templat ini salah tempat. Karena harusnya diletakkan dalam halaman pembicaraan: Pembicaraan:Konflik Israel–Iran.

Sejarah konflik

Ketegangan antara Iran dan Israel telah berlangsung selama beberapa dekade, dengan program nuklir Iran menjadi sumber utama kekhawatiran Israel. Israel, yang secara luas diakui memiliki kemampuan nuklir meskipun tidak pernah mengkonfirmasi hal tersebut secara resmi, menganggap program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial terhadap keamanan nasionalnya.

Iran telah menjadi penyokong utama kelompok-kelompok yang dianggap musuh oleh Israel, termasuk Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara konsisten menggambarkan Iran sebagai "kepala gurita" dengan jaringan proxy yang tersebar di seluruh kawasan Timur Tengah.[4]

Kronologi peristiwa

Konflik Proksi Iran-Israel 1985 - Sekarang

Konflik Proksi Iran-Israel adalah konflik tidak langsung yang berlangsung antara Republik Islam Iran dan Negara Israel sejak akhir abad ke-20 hingga saat ini. Konflik ini ditandai dengan dukungan kedua negara terhadap kelompok-kelompok proksi dan milisi yang beroperasi di berbagai wilayah Timur Tengah tanpa terlibat dalam konfrontasi militer langsung secara terbuka.

Akar konflik ini bermula dari perubahan fundamental hubungan bilateral kedua negara pasca Revolusi Islam Iran tahun 1979. Sebelum revolusi, Iran Imperial di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi menjalin hubungan diplomatik erat dengan Israel berdasarkan doktrin periferi, dimana kedua negara memandang kekuatan Arab sebagai ancaman bersama. Namun, setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini berkuasa, Iran memutuskan pengakuan terhadap Israel sebagai negara berdaulat, memutus seluruh hubungan diplomatik, komersial, dan hubungan lainnya, serta mulai menyebut pemerintah Israel sebagai "rezim Zionis" dan wilayah Israel sebagai "Palestina yang diduduki".

Meskipun ketegangan politik meningkat, Israel memberikan dukungan kepada Iran selama Perang Iran-Irak periode 1980-1988 dengan menjadi salah satu pemasok utama peralatan militer dan instruktur militer kepada Iran. Dukungan Israel mencapai puncaknya ketika melakukan penghancuran reaktor nuklir Osirak Irak dalam Operasi Babylon, yang dianggap sebagai komponen sentral program senjata nuklir Irak dan secara tidak langsung menguntungkan posisi strategis Iran.

Invasi Israel ke Lebanon tahun 1982 menjadi katalis pembentukan jaringan proksi Iran di kawasan tersebut. Invasi ini mengakibatkan keluarnya Organisasi Pembebasan Palestina dari Lebanon, tetapi memicu pembentukan Hezbollah sebagai gerakan perlawanan Syiah Lebanon yang dilatih dan dipersenjatai oleh Iran. Iran terus mendukung milisi Syiah selama pendudukan Israel atas Lebanon Selatan dan mengembangkan jaringan aliansi yang kemudian disebut sebagai "poros perlawanan" yang bertujuan menentang kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Dalam konflik Israel-Palestina, Iran memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok Palestina seperti Hamas dan Jihad Islam Palestina melalui penyediaan persenjataan, pelatihan, dan bantuan finansial. Sebaliknya, Israel telah mendukung kelompok pemberontak Iran seperti Mujahedin-e Khalq, melakukan serangan udara terhadap sekutu Iran di Suriah, dan melakukan pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran. Pada tahun 2018, pasukan Israel secara langsung menyerang kekuatan Iran di Suriah, menandai eskalasi baru dalam konflik ini.

Menurut analisis Pusat Stimson, Iran secara historis mengoperasikan setidaknya empat front utama dalam konflik proksi ini, yaitu Hamas di Gaza, Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman. Strategi ini bertujuan memaksa Israel untuk mempertahankan diri di berbagai front secara bersamaan, sehingga mengurangi kemampuannya untuk fokus pada kapabilitas nuklir atau militer Iran serta memberikan tekanan tidak langsung kepada Israel. Kelompok-kelompok proksi ini dalam beberapa kasus berkembang menjadi partai politik yang memperoleh legitimasi politik sambil menyamarkan aktivitas militan mereka.

Konflik ini telah mengakibatkan serangkaian perang dan konfrontasi, termasuk perang Israel-Hezbollah tahun 2006 dan berbagai perang Israel-Palestina di Jalur Gaza pada tahun 2008-2009, 2012, 2014, 2021, dan sejak 2023. Para pejabat intelijen Amerika Serikat menilai bahwa Iran tidak mencari konflik yang lebih luas, dengan tujuan utama kelompok proksi Iran adalah menargetkan Israel dan Amerika Serikat dengan cara yang menghindari pemicu perang skala besar. Amerika Serikat dianggap sebagai pendukung militer terbesar Israel, sementara Jerman, Inggris, dan Italia juga telah memasok senjata kepada Israel dalam konteks konflik yang berlangsung ini.[5]

Serangan Israel (13-14 Juni 2025)

Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan Operasi Rising Lion yang menyasar puluhan lokasi strategis di Iran. Serangan ini diarahkan pada fasilitas nuklir utama Iran, termasuk kompleks pengayaan uranium di Natanz yang terletak 225 kilometer sebelah selatan Teheran. Target lainnya mencakup markas besar Kementerian Pertahanan Iran, Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan, fasilitas nuklir Isfahan, serta infrastruktur energi seperti kilang minyak dan kapal tanker Shahran.

Serangan udara ini mengakibatkan korban jiwa di kalangan petinggi militer Iran, termasuk Kepala Garda Revolusi Iran Hossein Salami dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri. Dua ilmuwan nuklir senior, Fereydoon Abbasi (mantan kepala Organisasi Energi Atom Iran) dan Mohammad Mehdi Tehranchi (rektor Universitas Islam Azad Teheran), juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.[6]

Serangan Balasan Iran

Iran merespons dengan meluncurkan Operasi True Promise 3, mengirimkan hampir 100 rudal balistik dalam dua gelombang ke berbagai target di Israel, termasuk Tel Aviv dan Ramat Gan. Sistem pertahanan Iron Dome Israel berhasil mencegat sebagian besar rudal, tetapi beberapa rudal berhasil mengenai target dan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa.[7]

Dampak dan Korban

Konflik ini mengakibatkan korban jiwa yang signifikan di kedua belah pihak. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 224 orang tewas sejak dimulainya serangan Israel, sementara pihak Israel melaporkan 24 korban tewas akibat serangan balasan Iran. Konflik ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luas, termasuk fasilitas nuklir, instalasi militer, dan infrastruktur sipil.

Respons Internasional

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa pihaknya mengetahui rencana serangan Israel namun menegaskan bahwa militer AS tidak berperan dalam operasi tersebut. Trump dilaporkan menolak usulan Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menilai hal tersebut sebagai langkah yang tidak bijaksana.

Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) sebelumnya telah menyatakan bahwa Iran melanggar kewajiban nonproliferasinya untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, mengutip kegagalan Iran memberikan penjelasan lengkap mengenai keberadaan bahan nuklir yang tidak dilaporkan.

Implikasi Geopolitik

Konflik ini menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional di Timur Tengah. Netanyahu menyatakan bahwa operasi akan berlanjut hingga ancaman Iran terhadap Israel dieliminasi sepenuhnya. Sementara itu, Iran menegaskan haknya untuk membela diri dan mengklaim bahwa serangannya diarahkan secara eksklusif pada target militer.

Peristiwa ini juga memiliki implikasi terhadap stabilitas politik internal Israel, di mana Netanyahu menghadapi tekanan politik akibat tuduhan korupsi dan kritik atas penanganan serangan Hamas pada Oktober 2023. Konflik dengan Iran dianggap sebagai upaya untuk memperkuat posisi politiknya di dalam negeri.[8]

Upaya Diplomasi

Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyatakan bahwa Iran terbuka untuk solusi diplomatik, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyarankan bahwa penyelesaian konflik memerlukan tekanan dari Washington terhadap Netanyahu. Trump mengisyaratkan kemungkinan pencapaian kesepakatan diplomatik untuk mengakhiri konflik, meskipun detail spesifik belum diungkapkan.

Signifikansi Historis

Eskalasi Konflik Iran-Israel Juni 2025 menandai salah satu bentrokan militer paling intens antara kedua negara dalam sejarah modern melalui serangan udara, namun tanpa adanya pertempuran darat. Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral Iran-Israel, tetapi juga pada dinamika geopolitik regional di Timur Tengah dan hubungan internasional yang lebih luas, khususnya dalam konteks non-proliferasi nuklir dan stabilitas regional.

Konflik ini juga menjadi ujian bagi komunitas internasional dalam menangani eskalasi konflik antara dua kekuatan regional penting, dengan implikasi yang berpotensi merambah ke berbagai aspek keamanan global, termasuk pasokan energi, stabilitas pasar finansial, dan arsitektur keamanan internasional.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Iran-Israel: Ledakan terdengar di Teheran, Trump minta semua orang segera mengungsi dari ibu kota Iran". BBC News Indonesia. 2025-06-13. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ^ a b "Iran launches new strikes on Israel as Israeli attack widens". BBC. 15 June 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 June 2025.
  3. ^ Horovitz, David (13 June 2025). "'An immediate operational necessity': Why Israel finally attacked Iran's nuclear facilities". The Times of Israel. Diakses tanggal 13 June 2025.
  4. ^ Sorongan, Tommy Patrio. "Menguak Sebab Israel Serang Iran: Nuklir-Kejatuhan Politik Netanyahu". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2025-06-17.
  5. ^ "Israel and Iran: From proxy war to fears of regional gbege". BBC News Pidgin. 2024-08-18. Diakses tanggal 2025-06-17.
  6. ^ "Why has Israel attacked Iran?" (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2024-04-14. Diakses tanggal 2025-06-17.
  7. ^ "Fakta-fakta Serangan Israel ke Iran". Tempo. 14 Juni 2025 | 14.48 WIB. Diakses tanggal 2025-06-17.
  8. ^ "Israel dan Iran Terus Saling Serang: Begini Perkembangan Hari ke Hari". Tempo. 16 Juni 2025 | 18.28 WIB. Diakses tanggal 2025-06-17.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.
Prefix: a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Portal di Ensiklopedia Dunia

Kembali kehalaman sebelumnya