Mattojang
Mattojang adalah tradisi permainan ayunan raksasa yang berasal dari masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, Indonesia.[1] Tradisi ini memiliki nilai sosial, budaya, dan religius yang kuat serta diwariskan secara turun-temurun. Mattojang biasanya diselenggarakan dalam rangkaian acara adat atau pesta rakyat, seperti pesta panen, syukuran, pernikahan, dan kelahiran.[2]
Asal-usul dan Makna
Kata Mattojang berasal dari bahasa Bugis, dari kata tojang yang berarti “ayunan”. Secara harfiah, Mattojang berarti “berayun” atau “bermain ayunan”.[1] Tradisi ini berakar pada mitologi Bugis yang berkaitan dengan turunnya manusia pertama, Batara Guru, dari Botting Langi atau Negeri Khayangan ke bumi. Dalam kepercayaan masyarakat Bugis, Batara Guru turun menggunakan Tojang Pulaweng, yang berarti “ayunan emas”.[3]
Mitos tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk permainan rakyat, yang dipercaya melambangkan hubungan antara langit dan bumi. Batara Guru dianggap sebagai nenek moyang Sawerigading, ayah dari La Galigo, tokoh mitologis dalam epos Bugis Sureq Galigo yang menjadi salah satu karya sastra terbesar di dunia.[3] Melalui simbolisme itu, Mattojang menjadi bagian dari sistem kepercayaan dan warisan budaya Bugis yang menandakan keharmonisan antara manusia dan alam.
Pelaksanaan Tradisi
Dalam pelaksanaannya, Mattojang menggunakan dua batang kayu besar (biasanya kayu kapuk) yang dijadikan tiang utama penopang ayunan. Tali ayunan terbuat dari rotan atau ijuk yang kuat, dan panjangnya bisa mencapai puluhan meter.[2] Ayunan ini dipasang di ruang terbuka, biasanya di tengah sawah setelah masa panen.
Peserta Mattojang terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka bergiliran mengayun tinggi hingga melewati puncak tiang ayunan, diiringi sorak-sorai masyarakat yang menyaksikan. Gerakan naik-turun ayunan diartikan sebagai lambang kehidupan manusia yang memiliki pasang surut. Semakin tinggi seseorang berayun, semakin besar harapan untuk mencapai keberuntungan dan masa depan yang lebih baik.[2]
Nilai Sosial dan Filosofis
Mattojang tidak hanya dianggap sebagai permainan rakyat, tetapi juga sarana penginternalisasian nilai-nilai sosial dalam masyarakat Bugis. Tradisi ini menumbuhkan rasa kebersamaan, gotong royong, dan keberanian. Dalam penelitian di Kabupaten Enrekang, tradisi Mattojang dipahami sebagai bentuk pelestarian nilai sosial, di mana masyarakat, terutama generasi muda, mempelajari pentingnya solidaritas dan penghormatan terhadap warisan budaya.[1]
Selain nilai sosial, Mattojang juga memiliki makna spiritual dan simbolik. Dalam kepercayaan lama, permainan ini diyakini dapat mengusir penyakit atau energi negatif dari tubuh seseorang. Mengayun tinggi dianggap sebagai cara untuk “melepaskan” unsur buruk agar menjauh dari diri dan lingkungan sekitar. Walaupun kepercayaan semacam ini sudah jarang dijumpai, sebagian masyarakat Bugis masih melestarikan Mattojang sebagai bagian dari ritual penyucian diri atau ucapan syukur setelah panen.[3]
Kelestarian Tradisi
Hingga kini, Mattojang tetap menjadi salah satu simbol penting dalam kebudayaan Bugis. Di beberapa daerah, terutama di Kabupaten Enrekang, Bone, dan Soppeng, tradisi ini masih dilaksanakan pada acara adat dan festival budaya.[3] Pemerintah daerah dan komunitas budaya juga berupaya melestarikannya melalui kegiatan pariwisata dan pendidikan budaya lokal. Mattojang menjadi bukti keberlanjutan nilai-nilai tradisional di tengah modernisasi masyarakat Bugis-Makassar.[3]
Referensi
- ^ a b c Sapitri, Nur (2023). "Internalisasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Tradisi Mattojang Di Desa Salo Dua Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang". IAIN Parepare.
- ^ a b c Said, Imran (5 Agustus 2025). "Mappadendang dan Mattojang: Ritual Pesta Panen Suku Bugis". Chanel Sulsel. Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ a b c d e Adhaagary (14 Mei 2018). "Prosesi Mattojang". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-12.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.









