Psikosis AI
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: artikel perlu menjabarkan poin-poin ke dalam bentuk prosa. (Oktober 2025) |
Psikosis AI (dalam bahasa Inggris sering dibuat AI psychosis atau chatbot psychosis) adalah sebutan informal untuk fenomena psikologis di mana seseorang memanfaatkan atau memperparah gejala psikosis seperti delusi, paranoia, atau daya cerap terganggu setelah berinteraksi secara intens dengan sistem kecerdasan buatan (AI), terutama chatbot generatif. Istilah ini belum diakui sebagai diagnosis klinis resmi dalam buku panduan gangguan mental (seperti DSM atau ICD), dan bukti empirisnya masih sangat terbatas.
Sejarah dan asal istilah
Istilah chatbot psychosis muncul ketika psikiater Denmark, Søren Dinesen Østergaard menerbitkan sebuah editorial yang muncul pada tahun 2023 yang mengusulkan bahwa penggunaan chatbot AI generatif mungkin bisa memicu delusi pada individu yang memiliki kerentanan terhadap psikosis.[1] Sejak pertengahan tahun 2025, media populer mulai melaporkan kasus-kasus publik yang dikaitkan dengan fenomena ini, yang dalam pemberitaannya kerap disebut sebagai “AI psychosis” atau “Chatbot psychosis”.[2]
Meskipun mendapat banyak perhatian dari publik, para ahli psikiatri berhati-hati dalam menilai fenomena ini. banyak di antara mereka berpendapat bahwa psikosis AI bukanlah jenis gangguan baru, melainkan bentuk lanjutan dari gejala psikosis yang sudah ada sebelumnya, yang dapat dipicu atau diperburuk oleh interaksi dengan AI.[3]
Karakteristik dan gejala
Berdasarkan sejumlah laporan kasus dan pembahasan di media sosial, fenomena ini umumnya menunjukkan beberapa ciri khas berikut (meskipun tidak semua penderitanya mengalami gejala yang sama):
- Delusi terkait AI: Keyakinan bahwa chatbot atau sistem AI memiliki perasaan atau sedang berkomunikasi khusus dengannya.[4]
- Paranoia atau pengawasan: Muncul keyakinan sedang diawasi atau dikontrol oleh sistem digital.[5]
- Kesulitan membedakan realitas: Kebingungan antara apa yang nyata dan apa yang dihasilkan AI.
- Keterikatan emosional terhadap AI: Menjadikan AI sebagai teman dekat, penasihat tak tergantikan, atau sosok yang “mengerti jiwa”.
Perlu ditekankan bahwa laporan ini umumnya bersifat anekdotal atau berdasarkan wawancara media, bukan hasil studi longitudinal berskala besar.
Mekanisme dan faktor risiko (hipotesis)
Karena belum ada konsensus ilmiah, sebagian besar penjelasan bersifat spekulatif atau hipotesis:
- Validasi delusional; Beberapa chatbot AI secara algorithm mungkin “mengiyakan” atau mengonfirmasi komentar pengguna tanpa menentangnya secara kritis. Fitur ini bisa memperkuat delusi yang sudah ada atau memicu keyakinan keliru.[5]
- Desain interaksi yang bersifat persuasi / engagement; Chatbot sering dirancang agar terus memancing dialog dengan pengguna melalui respons yang tampak mendukung atau empatik, meskipun tidak akurat secara faktual.[6]
- Dissonansi kognitif & ilusi kehadiran (presence illusion); Interaksi dengan AI yang sangat natural dapat membingungkan sebagian pengguna tentang batas antara mesin dan manusia, sehingga menyebabkan ilusi bahwa AI “mengerti” atau “merespons dengan kesadaran”.
- Kerentanan individu; Mereka yang memiliki predisposisi terhadap gangguan mental, psikosis ringan, atau kecenderungan delusi mungkin lebih rentan mengalami eksaserbasi gejala setelah stimulasi AI.
Karena belum ada penelitian eksperimental kuat, hubungan sebab-akibat tetap belum terbukti.
Studi kasus
Pada Maret 2023, seorang pria Belgia bunuh diri setelah mendiskusikan kekhawatirannya tentang perubahan iklim dengan chatbot Eliza di aplikasi Chai. Setelah menghiburnya selama enam minggu, Eliza menyarankan agar mereka "hidup bersama, sebagai satu pribadi, di surga".
Penyebab
Menurut Fuchs (2021), interaksi antara manusia dan AI seringkali menimbulkan ilusi bahwa pengguna dipahami atau diperhatikan, padahal hal tersebut hanyalah hasil dari proyeksi antropomorfik terhadap sistem yang sebenarnya tidak memiliki intensionalitas maupun emosi. ketika individu mulai membahas pertanyaan yang lebih pribadi dan emosional dengan AI, sistem tersebut dapat menimbulkan efek slippery slope yang memperkuat tema-tema tertentu hingga individu semakin terlepas dari realitas bersama (consensus reality).
Menurut hasil dua studi di Eropa dan Amerika Utara, remaja dengan gejala awal psikosis yang mencari bantuan tetap berisiko mengalami psikosis di kemudian hari (19% dan 35%) karena berbagai faktor sosial dan psikologis (Zhou et al., 2023; Müller et al., 2021).
Menurut Cao dan Liu (2022), anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif pandemi seperti kecemasan, depresi, dan gejala pascatrauma yang dapat meningkatkan risiko psikosis serta memengaruhi kualitas hidup jangka panjang.
Pencegahan dan solusi
Karena dapat berdampak fatal, beberapa pencegahan bisa dilakukan untuk mengurangi efek buruk kepada pengguna dan memperkecil jumlah korban yang akan datang. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah eduksi pengguna sejak awal. Memberikan pemahaman kepada pengguna sejak awal merupakan langkah penting agar pengguna tidak melewati batas dalam penggunaan chatbot. Lalu, pembatasan peran chatbot perlu dilakukan agar chatbot bisa digunakan hanya untuk dukungan ringan dan informasi umum, bukan sebagai pengganti tenaga profesional. Yang terakhir, pengawasan dan regulasi pemerintah juga diperlukan dalam tindakan pencegahan chatbot psychosis. Seperti yang sudah dilakukan pemerintah Illinois melalui undang-undang bernama Wellness and Oversight for Psychological Resources Act , mereka membuat undang-undang dimana mereka melarang chatbot berperan sebagai terapis.
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa fenomena ini sudah memakan korban, maka dari itu kita juga membutuhkan solusi konkret yang dapat membantu korban. Langkah pertama adalah membantu individu secara bertahap mengurangi intensitas percakapan dengan chatbot, jangan biarkan mereka semakin tenggelam dalam dunia virtual dan bantu mereka membangun koneksi kembali dengan dunia realita. Dukungan sosial dari orang terdekat korban juga dapat menjadi pondasi penting agar mereka dapat merasa lebih diterima, tidak sendirian, dan lebih mudah kembali terhubung dengan dunia asli. Yang terakhir, dorong mereka untuk menemui tenaga kerja profesional kesehatan mental yang siap menyembuhkan mereka dengan cara penanganan yang tepat.
Kritik dan keraguan ilmiah
Sejumlah pakar menyampaikan keberatan terhadap penggunaan istilah dan konsep Psikosis AI. Banyak ahli menilai bahwa fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk baru dari psikosis yang sudah ada, yang dipicu oleh media digital seperti chatbot, bukan sebagai gangguan baru yang berdiri sendiri. Beberapa psikiater juga menilai istilah AI psychosis berpotensi menyesatkan karena terlalu menitikberatkan pada delusi yang berkaitan dengan AI, tanpa mempertimbangkan gejala psikosis lain seperti gangguan pikir formal atau halusinasi.[3]
Selain itu, hingga kini belum tersedia data kuantitatif atau studi kontrol yang mampu membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan munculnya gejala psikosis. Sejumlah peneliti juga mengingatkan bahwa sebagian laporan kasus mungkin dipengaruhi oleh efek plasebo atau penafsiran pascakejadian (post hoc interpretation), di mana individu sebenarnya sudah memiliki kecenderungan psikotik sebelum berinteraksi dengan AI, dan teknologi hanya bertindak sebagai pemicu tambahan. Karena itu, para ahli menekankan agar istilah Psikosis AI digunakan secara hati-hati, sebatas hipotesis yang masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut.[7]
Lihat juga
Referensi
- ^ Østergaard, Søren Dinesen (2023-11-29). "Will Generative Artificial Intelligence Chatbots Generate Delusions in Individuals Prone to Psychosis?". Schizophrenia Bulletin (dalam bahasa Inggris). 49 (6): 1418–1419. doi:10.1093/schbul/sbad128. ISSN 0586-7614.
- ^ "Chatbot psychosis". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2025-10-06.
- ^ a b Broderick, O. Rose (2025-09-02). "As reports of 'AI psychosis' spread, clinicians scramble to understand how chatbots can spark delusions". STAT (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-10-12.
- ^ Paharia, Pooja Toshniwal (2025-09-16). "AI Psychosis: How Artificial Intelligence May Trigger Delusions and Paranoia". News-Medical (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-12.
- ^ a b MD, Allen Frances; Ramos, Luciana (2025-10-12). "Preliminary Report on Chatbot Iatrogenic Dangers | Psychiatric Times". www.psychiatrictimes.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-12.
- ^ "Exploring the Dangers of AI in Mental Health Care | Stanford HAI". hai.stanford.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-12.
- ^ Feehly, Conor. "How AI Echo Chambers May Be Fueling Psychotic Episodes". Scientific American (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-12.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.









