Samuel Indratma
Samuel Indratma (lahir 22 Desember 1970) adalah seorang seniman visual, muralis, konsultan seni, dan penulis asal Yogyakarta, Indonesia. Ia dikenal atas peran perintisnya dalam mempopulerkan seni publik di Indonesia melalui pendirian kelompok seni Apotik Komik (1997–2005) dan Jogjakarta Mural Forum (2005). Karyanya mencakup mural, wayang kulit, batik, gerabah, instalasi, seni video, dan animasi, yang menggabungkan elemen tradisional Jawa dengan pendekatan kontemporer. Dengan filosofi "Los Stang" (pegangan longgar), Indratma menekankan kebebasan artistik dan seni sebagai alat komunikasi sosial, mengubah estetika perkotaan Yogyakarta dan memperkuat wacana seni kontemporer Indonesia.[1][2][3][4]
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Samuel Indratma lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 22 Desember 1970, dalam keluarga yang kaya akan budaya Jawa.[5] Bakat seninya terlihat sejak remaja, ketika ia membuat kartun yang diterbitkan di media cetak lokal selama masa sekolah menengah.[1] Pada tahun 1990–1996, ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dengan fokus pada seni grafis, yang membekalinya dengan keterampilan teknis dalam seni rupa dan wawasan teoretis tentang komunikasi visual.[6][7] Pendidikannya berlangsung selama era Reformasi Indonesia, periode transisi sosial dan politik yang memengaruhi pandangannya tentang seni sebagai alat aktivisme dan keterlibatan masyarakat.[8][9]
Yogyakarta, sebagai pusat budaya dan intelektual Indonesia, memberikan lingkungan yang mendukung eksperimen seni publik dan aktivisme. Pengaruh budaya Jawa, khususnya tradisi Mataraman, membentuk pendekatan Indratma dalam mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam seni kontemporer.[10][11]
Karier
Apotik Komik
Pada tahun 1997, Indratma bersama Arie Dyanto, Bambang 'Toko' Witjaksono, dan seniman lain mendirikan Apotik Komik, sebuah kolektif seni yang bertujuan menggunakan mural dan komik sebagai media komunikasi sosial.[3][12][13] Beroperasi hingga 2005, kolektif ini mengubah persepsi publik tentang mural dari vandalisme menjadi bentuk seni yang sah melalui proyek-proyek seperti "Melayang" (1997) di Kampung Nitiprayan, Yogyakarta, yang menampilkan strip mural sepanjang 700 meter persegi dengan tema transisi pasca-Orde Baru.[13][14] Proyek "Sakit Berlanjut" (1999) mengekspresikan kekhawatiran tentang warisan Orde Baru melalui mural dan konferensi pers yang melibatkan jurnalis.[14] Pada 2002, Apotik Komik meluncurkan proyek mural besar-besaran di Jembatan Layang Lempuyangan, dikenal sebagai "virus mural," yang memperkuat identitas visual kota.[1][15] Kolaborasi internasional "Sama-Sama/Together Yogyakarta" (2003) dengan Clarion Alley Mural Project (CAMP) dari San Francisco menghasilkan mural bertema "Sama-Sama you are Welcome," diikuti oleh proyek serupa di San Francisco.[14][16]
Apotik Komik juga menyelenggarakan "Galeri Publik Apotik Komic" (2000–2001), sebuah galeri jalanan yang melibatkan seniman muda dari Jakarta dan Yogyakarta, serta lokakarya untuk pelajar, anak jalanan, dan ibu rumah tangga, memperluas partisipasi komunitas.[12][17] Dengan dukungan dari pemerintah kota dan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, yang menyediakan cat dan bahan, Apotik Komik mempelopori kampanye mural untuk memperindah kota dan menangkal grafiti "liar," memperkuat nilai estetika dan sosial mural.[4]
Jogjakarta Mural Forum
Pada tahun 2005, Indratma mendirikan Jogjakarta Mural Forum (JMF), sebuah platform dengan kebijakan pintu terbuka untuk mempromosikan seni mural sebagai sarana pendidikan dan ekspresi masyarakat.[4][18][19] JMF melibatkan seniman tradisional berusia di atas 50 tahun untuk menciptakan mural yang kaya akan nilai lokal, seperti proyek "Mural Rasa Jogja," yang didokumentasikan melalui wawancara oleh Indratma.[20] Proyek mural di Kampung Kumendaman (2007) menggambarkan sejarah lokal sebagai tempat tinggal prajurit Kraton Yogyakarta, memperkuat identitas budaya.[21][22] Hingga 2008, lebih dari 500 mural berbasis komunitas telah dibuat di Yogyakarta, menangani isu seperti kesehatan, kebersihan, dan pendidikan, dengan dukungan otoritas lokal.[4]
Evolusi Artistik
Karier Indratma berevolusi dari seni grafis dan mural ke eksplorasi bentuk tradisional seperti wayang kulit, batik, gerabah, dan instalasi, serta media digital seperti seni video dan animasi.[23] Pameran tunggal "Wayang Los Stang" (2017) di Sangkring Art Project menampilkan pendekatan pribadi terhadap wayang, terinspirasi oleh kehidupan sehari-hari dan interaksi dengan anak-anaknya, yang ia sebut sebagai "Single Parent Exhibition."[24] Pameran "Maju Jaya" (2018) di Jogja Galeri menggunakan kain satin tipis yang digantung seperti jemuran, tanpa keterangan, untuk mendorong interpretasi aktif dari penonton.[25][26][27]
Pameran "Tabon" (2024) di Jogja National Museum, yang diselenggarakan oleh Jogja Art Planet, menggabungkan seni kontemporer dengan tema dialog antaragama, spiritualitas, dan kesadaran lingkungan. Karya seperti trailer animasi "Belik" (narasi ekologi) dan "Sintren Save The Planet" (menghubungkan seni Jawa dengan pemberdayaan perempuan) menunjukkan pendekatan interdisipliner Indratma.[28][29][30] Ia juga bereksperimen dengan material daur ulang, seperti kaleng bekas aspal dalam pameran "Agro Metal" (2009) di Tembi Contemporary Gallery.[31][32]
Proyek Sampingan
Selain seni visual, Indratma terlibat dalam proyek interdisipliner. Pada tahun 2025, ia berkontribusi pada penelitian tentang inovasi energi bersih di lingkungan kampus, mengintegrasikan seni dengan teknologi IoT dalam proyek pembangkit listrik tenaga angin skala kecil.[33] Ia juga turut menulis buku Crossing The Wall: The Stories of 20 Indonesian Muralists (2023), mendokumentasikan sejarah dan profil seniman mural Indonesia.[34] Dalam Sraddha Jalan Mulia Art Project (2021), ia menghasilkan lagu "Panyuwunan," yang populer di acara nasional, mengeksplorasi tema kerinduan dan determinasi selama pandemi.[29][35]
Filosofi Artistik
Filosofi inti Indratma adalah seni sebagai "alat komunikasi sosial," yang bertujuan untuk menggerakkan masyarakat dan memicu dialog.[1][23] Konsep "Los Stang" (pegangan longgar), yang diartikulasikan dalam pameran "Wayang Los Stang" (2017), menekankan kebebasan artistik tanpa batasan akademis atau komersial.[7][24] Karyanya mengintegrasikan tema spiritual dan sosial, seperti dalam karya untuk Ubud Writers and Readers Festival 2019 berdasarkan konsep karma sesuai tema karma phala.[36] Pameran "Tabon" (2024) mempromosikan dialog antaragama dan kesadaran lingkungan.[28][30]
Pameran dan Proyek Kolaboratif
Pameran Tunggal
- Mural Blues (1997, Yogyakarta) – Menampilkan karya mural awal dengan fokus pada ekspresi sosial.[6]
- From Horror to Hope (1998, Yogyakarta) – Mural yang menanggapi transisi sosial pasca-Reformasi.[6]
- Begadang III (2001, Yogyakarta) – Eksplorasi artistik dengan pendekatan eksperimental.[37]
- Pakubuwana Residence (2002, Yogyakarta) – Pameran yang mengeksplorasi ruang urban dan identitas lokal.[37]
- The Interpretation of Sureq La Galigo (2004, Singapura) – Interpretasi budaya melalui wayang.[2][38]
- Urban Apartment (2007–2008, Melbourne) – Karya seni urban yang mengeksplorasi ruang kota.[2]
- Agro Metal (2009, Tembi Contemporary Gallery, Yogyakarta) – Penggunaan material daur ulang.[31][32]
- Wayang Los Stang (2017, Sangkring Art Project, Yogyakarta) – Eksplorasi wayang dengan narasi pribadi.[24]
- Maju Jaya (2018, Jogja Galeri, Yogyakarta) – Penataan tidak konvensional dengan kain satin.[25][26][27]
- Tabon (2024, Jogja National Museum, Yogyakarta) – Kolaborasi dengan tema dialog antaragama.[28][29][30]
Pameran Kelompok
- AWAS! Recent Art from Indonesia (1999–2001, Indonesia, Australia, Jepang, Eropa) – Pameran keliling seni kontemporer Indonesia.[2][17][39]
- Four Member of Apotik Komik (2000, Singapura) – Menyoroti karya seni publik Apotik Komik.[12]
- 36 Ideas from Asia: Contemporary South-east Asian Art (2002–2003, Singapura, Eropa) – Menampilkan seni Asia Tenggara.[2]
- Sama-Sama/Together Yogyakarta (2003, Yogyakarta) – Kolaborasi mural dengan Clarion Alley Mural Project.[14][16]
- CP Open Biennale 2003 (2003, Jakarta) – Pameran seni kontemporer besar.[2]
- Aikon (2004, Yogyakarta) – Pameran yang mengeksplorasi komunikasi visual.[37]
- On the Nature of Botanical Gardens (2020, Framer Framed, Amsterdam) – Perspektif ekologi Indonesia melalui seni.[40][41]
- Tabon (2024, Jogja National Museum, Yogyakarta) – Kolaborasi dengan tema dialog antaragama.[28][29][30]
Proyek Kolaboratif
Indratma berkontribusi pada Sraddha Jalan Mulia Art Project (2021), menghasilkan lagu "Panyuwunan" yang populer di acara nasional.[35][42] Proyek mural di Kampung Kumendaman (2007) bersama JMF menggambarkan warisan budaya lokal.[21][22] Sebagai konsultan seni, ia memberikan saran untuk presentasi seni di Sangkring Art, Plataran Djoko Pekik, dan Museum Nasirun.
Dampak dan Warisan
Samuel Indratma telah meninggalkan jejak mendalam pada kancah seni Yogyakarta melalui Apotik Komik dan Jogjakarta Mural Forum, yang telah mengubah estetika perkotaan kota dan melegitimasi mural sebagai komunikasi sosial.[1][4][8][15] Pendirian Folk Mataraman Institute menunjukkan komitmennya untuk menjembatani seni kontemporer dengan budaya Jawa.[29] Karyanya di Kampung Seni Nitiprayan, Bantul, memperkuat komunitas seni lokal.[43][44] Pameran "Tabon" (2024) menegaskan perannya sebagai advokat dialog antaragama dan keberlanjutan.[28][29][30] Kontribusinya dalam buku Crossing The Wall memperluas pengaruhnya dalam mendokumentasikan ekosistem seni Indonesia.[34] Filosofi "Los Stang" menginspirasi seniman muda untuk pendekatan eksperimental.[7][45]
Referensi
- ^ a b c d e "Menggerakkan Kota dengan Seni". Kompas. 2010-06-25. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c d e f "Samuel Indratma". Framer Framed. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b Chin, Michelle (2002). "Apotik Komik are Going to Paint the Town Red". Latitudes. 20.
- ^ a b c d e Lee, Doreen (2015). "A troubled vernacular: Legibility and presence in Indonesian activist art". The Journal of Asian Studies. 74 (2): 303–322.
- ^ "About SAMUEL INDRATMA". Flickr. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c "Samuel Indratma Yogya". GudegNet. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c Prasetyo, Agung (2017). Studi Visualisasi Karya Mural Samuel Indratma (Thesis). Universitas Islam Indonesia. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Kajian Seni Rupa di Ruang Publik dan Pengaruhnya terhadap Citra Kota Yogyakarta". Askara. Institut Teknologi Telkom Purwokerto. 2022. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ Wulandari, Wiwik Sri (2008). Seni grafis Yogyakarta dalam wacana seni kontemporer (Thesis). Universitas ISI Yogyakarta.
- ^ Bennett, Linda Rae (2005). Women, Islam and Modernity: Single Women, Sexuality and Reproductive Health in Contemporary Indonesia. Routledge. hlm. 186. ISBN 9780415448031.
- ^ Herdiansyah, Haris (2020). Politik Ruang: Representasi Kekuasaan dalam Kesenian di Indonesia. Marjin Kiri. hlm. 128. ISBN 9789791260701.
- ^ a b c "Apotik Komik". Indonesian Visual Art Archive. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b Loenen, E. van (2013). Street art en politiek-maatschappelijk discours in Yogyakarta (Thesis). Unknown.
- ^ a b c d Yuniar, Rini; Efendi, David (2018). Art and Urban Politics: Social and Political Impact of ‘Underground’ Movement toward Neoliberal Development in Yogyakarta, Indonesia. ;
- ^ a b Witjaksono, Bambang (2006). "Jogja Kota Mural". Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain. 7 (3).
- ^ a b "Sama-Sama/Together Yogyakarta". Clarion Alley Mural Project. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b Macdonald, Fiona (2000). "Beware: Awas! Recent Art from Indonesia". Eyeline. 42: 22–25.
- ^ "JOGJA MURAL FORUM". Blogspot. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ Pamuji, Yanuar Ikhsan; Kusuma, Alfiandi Eka; Bagja, Bachrul Restu (2024). "Negoisasi Penyajian Karya Seni Mural Di Yogyakarta (Komunitas Jogja Mural Forum)". Brikolase: Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa. 16 (2): 239–249.
- ^ "Jogja Mural Forum". Cinemata. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Jogja Mural Forum". Elanto Wijoyono. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b Candra, Cristian Oki (2013). Pesan Visual Mural Kota Karya Jogja Mural Forum (Thesis). Universitas Negeri Yogyakarta.
- ^ a b Supriyanto, Joko (2005). Tinjauan Aspek Komunikasi Visual Pada Mural Di Yogyakarta (Thesis). Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
- ^ a b c "Samuel Indratma Gelar Pameran Tunggal "Wayang Los Stang" di Sangkring Art Project". Sangkring Art. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Pameran Tunggal Samuel Indratma Yang Chaos". Sarasvati. 2018. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Seniman Samuel Indratma Pameran di Yogyakarta". Detik. 2018-08-19. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b Januar, Riski (2018). "Pameran Tunggal Samuel Indratma Yang Chaos". Sarasvati. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c d e "Jogja Art Planet Gelar 'Tabon', Pertemukan Seni Rupa dan Belanja". Krjogja. 2024-04-23. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c d e f "Selaras dengan World Water Forum 2024, Pameran Tabon di Yogyakarta Sedang Digelar". Good News from Indonesia. 2024-04-26. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c d e "Tiga Seniman Beda Iman Meramu Seni Rupa Kontemporer". Arina. 2024-04-24. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Agro Metal - Samuel Indratma". Asia Art Archive. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b "Dunia Seng Samuel Indratma". Tempo. 2010-02-25. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ Lukiyanto, Y. B.; Subanar, G. B.; Anurogo, B. L.; Halim, E.; Indratma, S. (2025). "Clean Energy Innovation in Campus Environment with Small-Scale Wind Power Plants Integrated with IoT". Internet of Things and Artificial Intelligence Journal. 5 (1): 127–135.
- ^ a b "As an Appreciation for Mural Artists, Mowilex Launched the Book "Crossing The Wall"". Mowilex. 2023. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b Aquilanada Dyazahra, Gupita (2025). Analisis Komposisi Musik Panyuwunan Karya Dimawan Krisnowo Adji (Thesis). Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
- ^ "UWRF to ponder consequences of human actions". The Jakarta Post. 2019-10-14. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ a b c Dahlan, Muhidin M. (2009). Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009. I: BOEKOE & Gelaran Budaya. Yogyakarta: BOEKOE.
- ^ Lindsay, Jennifer (2007). "Intercultural expectations: I la Galigo in Singapore". The Drama Review. 51 (2): 60–75.
- ^ AWAS! Recent Art from Indonesia. Yogyakarta: Rumah Seni Cemeti. 1999.
- ^ "On the Nature of Botanical Gardens". Framer Framed. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ Boonstra, Sadiah (2022). "On the nature of botanical gardens; Decolonial aesthesis in Indonesian contemporary art". Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia. 23 (1): 8.
- ^ Subanar, Budi (2019-01-28). Sraddha - Jalan Mulia: Dunia Sunyi Jawa Kuna. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-087-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Kampung Seni Nitiprayan". YogYes. Diakses tanggal 2025-07-16.
- ^ Fransen, Jan; Subanu, Leksono Probo; MRUP, Ph D (2013). "Creative Cluster or Creative Class?: A Case Study of Nitiprayan Artist Kampong, Yogyakarta". ;
- ^ Pratama, Ade Puspa (2014). Pembentukan identitas Yogyakarta sebagai kota mural (Thesis).
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.









