Diah Hadaning
Diah Hadaning (lahir 4 Mei 1940–2021) adalah sastrawati berkebangsaan Indonesia. Sejak muda, Diah Hadaning sudah bergelut di dunia sastra. Puisi-puisinya kebanyakan mengangkat tema anti-perbedaan suku, ras, agama, dan antar-golongan. Salah satu karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia dan dibacakan di hadapan presiden Nelson Mandela saat kali pertama berkunjung ke Indonesia (1990).[1][2] Puisinya "Lapar I", "Lapar II", "Lapar III" dan "Orang kecil - Orang besar" diterjemahkan juga ke bahasa Rusia [3] Latar belakangDiah Hadaning lahir di Jepara, Jawa Tengah dalam lingkungan keluarga Jawa. Itulah yang akhirnya berpengaruh terhadap karya-karya yang dihasilkan, lebih merupakan pengendapan intuisi yang dituangkan dalam bentuk fiksi yang lebih sering bertema filosofi hidup, utamanya kejawen. Diah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Pekerja Sosial jenjang program diploma 2, lulus tahun 1960. Selebihnya dia mengikuti kursus jurnalistik di Jakarta (1988) dan kursus teater di Kuningan, Jakarta (1996). Keterlibatannya di mingguan Swadesi Jakarta, diawali oleh proses kreatifnya yang cukup bagus, di mana saat itu, karya Diah sering dimuat di Swadesi, sehingga akhirnya dia berketetapan hati bergabung sebagai salah satu redakturnya, tahun 1986. Dari situlah nama Diah mulai dikenal di kancah kesusastraan Indonesia. Di samping berkarya, Diah juga mendirikan sejumlah komunitas seni untuk menggairahkan kehidupan apresiasi seni di tengah kalangan muda. Namanya juga pernah tercatat di sejumlah organisasi antara lain sebagai dewan pendiri Komunitas Sastra Indonesia (1996), pengurus wanita penulis Indonesia (2007-sekarang), pengurus Teater Oncor, bersama Ray Sahetapy (1997-2000), pendiri dan pengelola Warung sastra DIHA (1987-sekarang), dan anggota komite sastra Dewan Kesenian Jakarta. Di usianya yang sudah senja ini, Diah masih terus berkarya dan menyambangi berbagai perhelatan kesenian baik dalam maupun luar negeri. Bahkan pusat dokumentasi sastra H.B. Jassin di kompleks Taman Ismail Marzuki menyimpan karya-karya Diah Hadaning.[4][5] Karier
Karya tulisPuisi
Prosa
Penghargaan
Lihat pulaRujukan
|