Petrus Nasution
| Petrus Nasution | |
|---|---|
| Lahir | Abad ke-19 Parausorat, Sipirok |
| Kebangsaan | Indonesia (Batak) |
| Nama lain | Pendeta Petrus Nasution |
| Pekerjaan | Pendeta, Tokoh penyebar agama Kristen |
| Dikenal atas | Perintis Kekristenan di Luat Sipirok, Pendiri Kampung Kristen Padangmatinggi |
| Orang tua | Djarumahot Nasution / Hussni bin Idris (ayah) Boru Regar dari Pagarandolok (ibu) |
| Kerabat | Tuanku Lelo (kakek) Sintua Johannes Nasution (saudara kandung) |
Pendeta Petrus Nasution adalah seorang tokoh perintis dan penyebar agama Kristen Protestan (beraliran Lutheran/Calvinis) di Luat Sipirok pada abad ke-19. Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Parlindungan dalam buku Tuanku Rao, Petrus merupakan pendiri Kampung Kristen Padangmatinggi di Sipirok setelah ia dan keluarganya mengalami pengusiran dari kampung halaman mereka akibat perpindahan agama.
Latar Belakang dan Keluarga
Petrus Nasution lahir di Parausorat, Sipirok. Ia memiliki garis keturunan yang terhubung langsung dengan tokoh-tokoh Perang Padri di wilayah Tanah Batak. Ayahnya adalah Djarumahot Nasution (nama aslinya adalah Hussni bin Idris), yang merupakan putra dari Tuanku Lelo (Idris Nasution), seorang panglima kavaleri Padri. Kakek buyutnya adalah Pagu Nasution (Hadji Hassan Nasution gelar Tuanku Kadi Malikul Adil). Ibu Petrus adalah seorang perempuan dari marga Siregar (Boru Regar) yang berasal dari Pagarandolok, Sipirok.[1]
Ayah Petrus, Djarumahot, adalah seorang pengusaha pengangkutan bibit kopi Arabika yang kaya raya. Keluarga ini pada awalnya adalah pemeluk agama Islam bermazhab Syafi'i yang taat. Luat Sipirok pada masa itu memang menjadi titik temu sosiologis yang kompleks antara masyarakat adat, sisa-sisa pengaruh perang agama, dan kebangkitan kekuatan kolonial.[2]
Konversi Agama
Pada tahun 1857, seorang zendeling (misionaris) asal Belanda dari Kongsi Zending Ermelo bernama Gerrit van Asselt datang ke Parausorat. Kehadiran Pendeta van Asselt di Sipirok merupakan bagian dari gelombang awal penyebaran Kekristenan di Tapanuli Bagian Selatan sebelum akhirnya wilayah ini dilayani secara intensif oleh lembaga misi asal Jerman, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG).[3] Untuk menyambung hidupnya dan menutupi kekurangan dana misi, van Asselt bekerja sebagai kepala gudang kopi (pakhuismeester) dan pengawas jalan, di mana ia menjalin hubungan baik dengan Djarumahot Nasution.
Sebagai bentuk balas budi atas bantuan van Asselt dalam bisnisnya, Djarumahot menghibahkan tanah pusaka keluarganya di Parausorat kepada van Asselt. Di atas tanah inilah van Asselt mendirikan gereja, rumah pendeta, dan sekolah. Sebagai imbal baliknya, Pendeta van Asselt menyekolahkan anak-anak Djarumahot. Dari enam orang putra Djarumahot, tiga di antaranya dididik dan akhirnya dibaptis masuk agama Kristen Protestan oleh van Asselt. Salah satu dari tiga anak tersebut adalah Petrus Nasution.[1]
Pengusiran dan Pendirian Padangmatinggi
Keputusan Petrus dan saudara-saudaranya untuk berpindah agama mendapat penolakan keras di lingkungan asalnya. Pada tahun 1884, Petrus beserta keluarganya dan saudara-saudaranya yang telah memeluk Kristen dikeluarkan secara paksa dari Parausorat, yang pada masa itu dipimpin oleh seorang raja yang mensponsori kebangkitan kembali agama Islam di wilayah tersebut.
Setelah diusir, Petrus dan rombongannya berjalan sejauh kurang lebih dua mil dari Parausorat dan membuka sebuah permukiman baru. Pemukiman ini kemudian diberi nama Kampung Kristen Padangmatinggi. Di lokasi yang baru ini, mereka mendirikan sebuah gereja baru, karena gereja peninggalan Pendeta van Asselt di Parausorat terpaksa ditinggalkan hingga kosong.[1]
Pembentukan kampung Kristen eksklusif (huta Kristen) seperti Padangmatinggi merupakan pola sosiologis yang umum terjadi pada masa awal pekabaran Injil di Tanah Batak. Hal ini sering kali terpaksa dilakukan oleh para pekabar Injil dan konver (mualaf) agar dapat menjalankan ibadah dengan tenang, serta demi menghindari benturan adat maupun tekanan sosial dari kelompok mayoritas yang menolak perpindahan agama tersebut.[4]
Di Padangmatinggi, Petrus kelak ditahbiskan menjadi Pendeta, sementara saudara kandungnya melayani sebagai Sintua (Sintua Johannes Nasution). Keduanya diakui sebagai pionir atau pahlawan (champions) perkembangan agama Kristen Protestan di Luat Sipirok pada abad ke-19.[1]
Keturunan
Keturunan Pendeta Petrus Nasution dan saudara-saudaranya dari kelompok Padangmatinggi kelak memainkan peran penting dalam birokrasi dan pendidikan, baik pada masa kolonial Hindia Belanda maupun pasca-kemerdekaan Indonesia. Karena tidak mendapat boikot dari pemerintah kolonial, keturunan dari cabang keluarga ini memiliki privilese untuk mendapat akses pendidikan Barat (Belanda).
Beberapa pencapaian keturunannya antara lain:
- Menjabat sebagai Demang Toba pertama pada tahun 1914.
- Menjabat sebagai Hoofd School Opziener (Kepala Penilik Sekolah) pertama dan satu-satunya di Tanah Batak pada tahun 1936.
- Salah seorang cicit dari Pendeta Petrus Nasution kelak menjadi Sekretaris Jenderal Gabungan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada pertengahan abad ke-20.[1]
Referensi
- ^ a b c d e Parlindungan, Mangaraja Onggang (2007). Tuanku Rao. Yogyakarta: LKiS. Lampiran IV, hlm. 359-366.
- ^ Harahap, Basyral Hamidy (2007). Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu. ISBN 978-979-3731-16-1.
- ^ van den End, Th. (1987). Ragi Carita 1: Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1500-1860an. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
- ^ Aritonang, Jan Sihar (2004). Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Tanah Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia. ISBN 978-979-687-221-3.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.









