Bank Oke Indonesia
| OK! Bank | |
Jenis perusahaan | Publik |
| Kode emiten | BEI: DNAR |
| Industri | Jasa keuangan |
| Pendahulu | Inkarnasi pertama dari Bank Oke Indonesia |
| Didirikan | 15 Agustus 1990 |
| Kantor pusat | Gedung OK! Bank, Jakarta, Indonesia |
Tokoh kunci | Kang Bong-joo (Presiden Direktur) |
| Pendapatan | Rp 74 Miliar (2017), Rp 82 Miliar (2018) |
| Rp 10 Miliar (2017), Rp 19 Miliar (2018) | |
| Pemilik | OK Next Co. Ltd. (89,73%) |
| Situs web | www.okbank.co.id |
Bank Oke Indonesia atau lebih dikenal sebagai OK! Bank adalah salah satu bank yang berdiri sejak 1990 dan berkantor pusat di Jakarta. Bank kecil dengan aset Rp 11,8 triliun (2024) dan 8 kantor yang tersebar di berbagai daerah ini, mayoritas sahamnya dikuasai oleh OK Next Co. Ltd.,[1] sebuah perusahaan keuangan asal Korea Selatan milik Choi Yoon.
Sejarah
Bank Liman
Sebagai salah satu bank pasca-Pakto 88, mulanya bank didirikan dengan nama PT Liman International Bank (Liman Bank) pada 15 Agustus 1990 dan mendapat izin beroperasi dari Bank Indonesia pada 9 November 1991. Operasionalnya sendiri kemudian dimulai pada tahun yang sama.[1] Mulanya bank ini dikendalikan oleh sejumlah individu, seperti Anugerah Liman dan keluarganya, Hadi Susanto Sidharta dan Hadi Widjaja Sidharta.[2]
Sebelum memiliki bank sendiri, Hadi Widjaja Sidharta merupakan eksekutif perbankan di Bank Mayindo Pertama.[3] Adapun pemegang saham lainnya merupakan pebisnis yang memiliki beberapa perusahaan, seperti pabrik farmasi PT Coronet Crown.[4] Sejak 29 Juli 1998 nama perusahaan diindonesiakan menjadi PT Bank Liman Internasional atau Bank Liman.[2] Dalam perjalanannya Bank Liman lebih dikenal sebagai bank papan bawah, dengan aset per September 2010 hanya mencapai Rp 216 miliar dan 4 kantor yang tersebar di Jakarta dan Surabaya.[5]
Bank Dinar
Keterbatasan pemenuhan modal membuat pemegang saham lama memilih menjual Bank Liman pada 2011-2013. Mayoritas kepemilikan sahamnya menjadi dikuasai oleh dua pebisnis, Andre Mirza Hartawan (27,19%) dan Nio Yatony (43,92%), sementara pemegang saham lamannya hanya tersisa masing-masing sekitar 4%.[2] Adapun Nio Yatony merupakan salah satu pemilik Grup Pikko yang saat itu juga menguasai sebagian saham Bank Nationalnobu.
Akuisisi ini diiringi oleh pergantian nama perusahaan dari PT Bank Liman Internasional menjadi PT Bank Dinar Indonesia pada 23 Mei 2012.[1] Perubahan nama ini diresmikan pada 9 November 2012, dan setelahnya, Bank Dinar menargetkan ekspansi ke sektor ritel,[6] dengan membuka 20 kantor cabang baru.[7] Tidak lama setelah akuisisi dan rebranding, pada 11 Januari 2014 bank ini go public dengan melepas 22,2% sahamnya seharga Rp 100/lembar.[8]
Bank Oke
Meskipun bisa meningkatkan aset menjadi Rp 2,5 triliun dari hanya ratusan miliar, belakangan Nio Yatony dan mayoritas pemegang saham memilih menjual seluruh sahamnya kepada APRO Financial Group (kini OK Next). Pada 25 Oktober 2018, dalam transaksi senilai Rp 691 miliar, APRO berhasil menguasai 77,38% saham bank kecil ini.[9]
Demi memenuhi single presence policy, APRO kemudian menggabungkan Bank Dinar dengan bank kecil lainnya yang sebelumnya sudah mereka kuasai, Bank Oke Indonesia (dahulu Bank Andara), di mana Bank Dinar menjadi penerima merger. Merger ini efektif berlaku sejak 8 Juli 2019,[1] sekaligus mengukuhkan APRO sebagai pemegang saham mayoritas yang menguasai 90% saham Bank Dinar.[10] Tidak lama kemudian, pada 22 Juli 2019, PT Bank Dinar Indonesia Tbk bersalin nama kembali menjadi PT Bank Oke Indonesia Tbk, hingga saat ini.[1] Merger ini menghasilkan bank dengan aset Rp 5,1 triliun yang mengoperasikan 18 kantor cabang, mayoritas di Jabodetabek.[11]
Meskipun berbisnis bank di Indonesia, di negara asalnya, OK Next (d/h APRO Financial) lebih dikenal sebelumnya sebagai salah satu perusahaan pembiayaan bergaya sarakin dengan nama "Rush and Cash" (hingga 2023).[12] Bisnis ini dirintis oleh Choi Yoon (lahir 1963), seorang pengusaha berdarah zainichi. Nama "OK" merupakan singkatan dari Originally Korean (Asli Korea), yang menandakan statusnya sebagai perusahaan yang dikuasai pemegang saham asal Korea.
Manajemen
- Komisaris Utama: Sang Ton-sim
- Komisaris: Sondang Maria Samosir
- Komisaris: Chairuddin
- Direktur Utama: Kang Bong-joo
- Wakil Direktur Utama: Hendra Lie
- Direktur: Efdinal Alamsyah
- Direktur: Jong Ha-lee
Referensi
- ^ a b c d e LapTahunan DNAR 2024
- ^ a b c Prospektus DNAR 2014
- ^ Banks and Financial Institutions in Indonesia
- ^ Indonesia Bank Directory
- ^ Laporan Keuangan Bank Liman International, September 2010.
- ^ "Bank Liman Resmi Jadi Bank Dinar - Koran Jakarta". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-02-15. Diakses tanggal 2013-05-15.
- ^ Bank Liman Disulap Jadi Bank Dinar, Siap Buka 20 Kantor Cabang
- ^ Lompat 70%, Saham Perdana Bank Dinar Kena Auto Reject
- ^ Resmi APRO Kendalikan Bank Dinar, Kuasai 77,38% Kepemilikan
- ^ Prospektus merger 2018
- ^ LapTahunan DNAR 2019
- ^ Private moneylenders on edge of meltdown
Pranala luar
- (Indonesia) Situs web resmi
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.









